Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Minggu, 11 Maret 2012

SEARCH ENGINES



GOOGLE artinya ialah mesin pencari di Internet dan merupakan nama search engine di Internet. Selain untuk sebuah mesin pencari, google juga mengembangkan sayapnya dengan memperlebar sistem pencarian Newsgroup/NNTP, Gambar, kemudian Froogle untuk pencarian harga-harga barang, dan kini membuat layanan web-base email Gmail dengan pendekatan kapasitas yang cukup besar, conversation dan user interface lebih cepat dibanding webmail yang lain.

Selain layanan di atas Google pun berafiliasi membuat Social Networking yang diberi nama Orkut (Mirip dengan layanan yang disediakan oleh Friendster, Hi5, MySpace serta Linkedin yang lebih terorientasi ke bisnisdan job-seeking). Layanan Orkut ini dianggap lebih trusted karena untuk bergabung ke dalam Orkut harus di-invite oleh member yang sudah join.Banyak yang sudah menjadi member di google karena google menyediakan banyak informasi yang kita butuhkan.

CARA LOGIN/MASUK KE GOOGLE

1. Ketik http://google.co.id/ atau http://google.com/ di browser. Maka akan keluar gambar seperti dibawah ini;


 
2. Klik di sebelah kanan atas “Masuk” (lihat pada gambar yang dilingkari), dan setelah itu pada tampilan layar akan berubah seperti berikut:


3. Ketik alamat Gmail dan password kalian lalu klik Sign In.

4. Jika berhasil masuk, maka akan keluar gambar seperti ini;


Kelebihan

• Search engine Google memudahkan pencarian data relevan. Jika kita mengetikkan kata kunci tertentu, search engine akan berusaha mencari data paling cocok sesuai dengan APInya masing-masing.

• Mendukung web-service. Fitur ini untuk pengembang software. Dengan mengetahui web-service suatu search engine, kita tidak perlu membuat search engine sendiri untuk membuat aplikasi yang support pencarian di web. Contohnya adalah browser firefox, Yahoo Messenger atau flock. Aplikasi-aplikasi tersebut support pencarian.

• Search engine Google mengindex suatu halaman secara berkala. Jadi, bila suatu website diupdate search engine ini akan mengetahuinya.

• Saat ini search engine Google juga support localized search. Yaitu pencarian berdasarkan lokasi pengunjung. Contohnya adalah google, jika anda mengetik google.com di indonesia, maka akan redirect ke google.co.id.

• Cepat diakses. Search engine Google biasanya didesain simpel agar cepat diakses. Hasil pencarian pun juga cepat muncul karena memakai caching.

Kekurangan

• Kecepatan index dan kecepatan berkembangnya web yang tak sebanding. Saat ini berbagai website banyak bermunculan, jika kecepatan index search engine Google tidak ditingkatkan maka tak mungkin search engine ini bisa mengindex semuanya.

• Kadangkala search engine Google tidak menampilkan hasil yang diinginkan. Search engine selalu berusaha menampillkan hasil yang relevan. Tetapi kadang kala tetap memperlihatkan hasil yang tidak relevan.

• Munculnya orang-orang yang melakukan link-spamming. Yaitu melakukan spamming link untuk meningkatkan posisi mereka di search engine.

• Tidak bisa mengindeks halaman tertentu. Beberapa website yang memakai konten dinamis tidak bisa diindex. Biasanya website seperti ini dihalangi oleh form yang mengharuskan inputan.



Yahoo! adalah sebuah portal web populer yang dioperasikan perusahaan yang bernama Yahoo! Inc. yang dirintis oleh oleh David Filo dan Jerry Yang. Yahoo! pada awalnya hanyalah semacam bookmark (petunjuk halaman buku), ide itu berawal pada bulan April 1994, saat itu dua orang alumni Universitas Stanford mendapat liburan ketika profesor mereka pergi ke luar kota karena cuti besar.

Dua mahasiswa teknik tersebut mempunyai sedikit pekerjaan yang harus dilakukan selain menjelajah internet. Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk mengkompilasi sebuah daftar bookmark yang besar, yang dikelompokkan berdasarkan subyek.

Kemudian mereka berpikir, mengapa tidak memasukannya di web? Mereka kemudian bekerja membuat sebuah program database untuk menanganinya, yang dapat memberikan hasil secara online.

Koleksi bookmark tersebut, sekarang dikenal sebagai Yahoo!, menerima sejumlah 80 juta pengunjung setiap bulan (sensus tahun 2000).

CARA LOGIN/MASUK KE YAHOO

1. Ketik http://yahoo.co.id atau http://yahoo.com pada browser kalian. Maka akan muncul gambar seperti ini;


2. Klik Daftar, maka akan keluar gambar seperti ini;


3. Masukkan email dan kata sandi lalu klik sign in.

Kelebihan:

1. Cara surat menyurat modern untuk membuat orang menjadi lebih maju
2. Salah satu web yang menyediakan layanan fasilitas gratis
3. Salah satunyapun yang anda bilang, bila di refresh cepat
4. Banyak fasilitas yang disediakan, seperti: Y!A Y!A Y! mail Y! 360 dan lain2
5. Sudah ada di banyak negara

Kekurangan:

1. Satu id yahoo hanya untuk yahoo, tak bisa untuk produk windows, seperti IM dan msn
2. Teralu mudah untuk membuat id, sehingga kadang-kadang disalah gunakan
3. Fitur Y!M msh sangat kalah jauh dengan IM keluaran windows
4. Skin untuk Y!M msh sangatlah simple, tak seperti IM yang ada cukup banyak



LIVE SEARCH. Pengembangan yang terus dilakukan oleh Microsoft menghasilkan keputusan untuk memisahkan mesin pencari dengan Windows Live. Pada akhirnya Microsoft mengubah nama mesin pencarinya menjadi Live Search, yang kemudian dikonsolidasikan dengan Microsoft adCenter. Reorganisasi yang dilakukan ini, menimbulkan banyak perubahan dalam kebijakan, misalnya menghentikan beberapa produk seperti Windows Live Expo, Live Search Macros, dan sebagainya.
Perubahan yang terus dilakukan Microsoft ini ternyata belum membuahkan hasil. Microsoft menyadari bahwa penggunaan brand name untuk produk mesin pencari sangatlah penting. Akhirnya untuk menciptakan indentitas baru, Microsoft menghadirkan suatu mesin pencari baru pada tanggal 3 Juni 2009, yang diberi nama Bing, kepada seluruh pengguna Internet di dunia.
 
Kelebihan : 

1. Mampu mencari informasi yang lebih spesifik baik berupa website, berita, gambar, maupun musik, serta lainnya.
 
Kekurangan :

1. Kurang Terkenal

Web crawler adalah suatu program atau script otomatis yang relatif simple, yang menggunakan metode tertentu untuk melakukan scan atau “crawl” ke semua halaman-halaman Internet untuk membuat index dari data yang dicarinya. Sebutan/julukan lain untuk web crawl adalah web spider, web robot, bot, crawl dan automatic indexer.
 
Web crawl dapat digunakan untuk beragam tujuan. Penggunaan yang paling umum adalah yang terkait  atau berhubungan langsung dengan search engine. Search engine menggunakan web crawl untuk mengumpulkan informasi mengenai apa yang ada di halaman-halaman web publik. Tujuan utamanya adalah mengumpukan data sehingga ketika pengguna Internet mengetikkan kata pencarian di komputernya, search engine dapat dengan segera menampilkan web site yang relevan dan sesuai dengan yang dicari.
 
Ketika web crawl search engine mengunjungi halaman web, ia “membaca” teks yang terlihat, hyperlink, dan konten berbagai tag yang digunakan dalam situs seperti meta tag yang banyak berisi keyword. Berdasar kaninformasi yang dikumpulkan web crawl, search engine akan menentukan situs dan mengindex informasinya. Website tersebut kemudian dimasukkan ke dalam database search engine dan dilakukan proses penentuan ranking setiap halamannya.
 
Search engine bukanlah satu-satunya pengguna web crawl. Linguist bisa menggunakan web crawl untuk melakukan analisis tekstual; yaitu, mereka bisa menyisir Internet untuk menentukan kata apa yang paling umum digunakan hari ini (keyword populer). Peneliti pasar dapat menggunakan web crawl untuk menentukan dan memanipulasi trend pada suatu pasar tertentu. Ini semua merupakan contoh beragam penggunaan web crawl. Web crawl dapat digunakan oleh siapapun yang melakukan pencarian informasi di Internet.
 
Web crawl beroperasi hanya sekali, misalnya untuk suatu projek yang hanya sekali jalan, atau jika tujuannya untuk jangka panjang seperti pada kasus search engine, mereka bisa diprogram untuk menyisir Internet secara periodik untuk menentukan apakah sudah berlangsung perubahan  yang signifikan. Jika suatu situs mengalami trafik sangat padat atau kesulitan teknis, spider atau crawl dapat diprogram untuk mencatat hal ini dan mengunjunginya kembali setelah kesulitan teknis itu terselesaikan dan dilakukan pembenahan serta perbaikan.
 
Kelebihan;
 
1. Suatu program atau script yang relatif simple
2. Dapat digunakan untuk beragam tujuan.
 
Kekurangan;
 
1. Beroperasi hanya sekali, misalnya untuk satu projek yang hanya sekali jalan. 


 
Looksmart bukanlah search engine, tapi mempunyai pengaruh besar juga dalam pencarian data di internet. Directori ini berbagi database yang sudah dibuatkan kategorinya berupa link dengan MSN, Home.net, CNN, dan Time Warner. Situs ini merupakan yang termasuk berbayar, untuk itu jika anda mempunyai uang,daftarkan juga ke sini.
 
 
 
Kelebihan;

1.  Menyediakan produk iklan pencarian dan layanan kepada pengiklan teks
 
Kekurangan;   
    
1.  Situs ini merupakan yang termasuk berbayar



Microsoft Network atau MSN adalah layanan situs web portal yang dimiliki oleh Microsoft. Diluncurkan pada tanggal 24 Agustus 1995, MSN dapat dioperasikan dengan sistem operasi Windows 95, Windows 98, Windows 2000, Windows XP dan Windows Vista.

Bagiam-bagian dari MSN adalah Hotmail, Windows Messenger, My MSN dan Download IE8. MSN kini tersedia dalam semua bahasa di dunia.

Kelebihan;

1. Mampu mencari video, musik, gambar, dan beragam format file spesial.
 
Kekurangan;

1. Dibutuhkan waktu yang lama sampai hasil ditampilkan di halaman MSN.

2. Pengguna juga sulit membedakan antara iklan dan bukan iklan pada halaman pencariannya..
 
 
               Wisenut merupakan crawler yang berbasis mesin pencari yang dimiliki oleh Looksmart. Ini debut sebagai beta pada juli 2001 dan resmi diluncurkan pada September 2001. Dulu datavse sendiri, da ketika itu sangat dihargai oleh sejumlah kritikus. Wisenut diperkenalkan database segar dan hits relevan seperti teorema.
 
Kelebihan;

1. Situs yang ditampung oleh database ini sekitar 579 juta buah
2. Terdapat 21 bahasa dunia yang berbeda
3. Bebas dari banner iklan dan aneka image yang memberatkan
4. Menyediakan form isian untuk mencari database yang diinginkan
5. Adanya pemfilteran terhadap situs-situs pornografi
 
Kekurangan;
 
1. Tidak terdapat bahasa Indonesia. 
 
THANK YOU FOR NO COPYING MY POST.BE A CREATIVE! 

Selengkapnya...

Selasa, 24 Januari 2012

Ariana Joan Grande



Ariana Joan Grande (born June 26, 1993) is an American actress, singer, and dancer. After playing her first Broadway role at age 15, she created the role of Cat Valentine in the American sitcom Victorious, which is still running on the Nickelodeon channel. Selengkapnya...

Cody Robert Simpson



Cody Robert Simpson (born 11 January 1997) is an Australian pop singer from Gold Coast, Queensland, who is currently signed to US record label Atlantic Records. Selengkapnya...

Kamis, 19 Januari 2012

GREYSON CHANCE

Greysonmichaelchance-Paparazzi




Greyson Michael Chance (born August 16, 1997)is an American pop rock singer and pianistwhose April 2010 performance of Lady Gaga's "Paparazzi" at a sixth-grade music festival became a hit on YouTube, gaining over 45 million views as of December 3, 2011. Two of his original compositions, "Stars" and "Broken Hearts", gained over 5 and 7 million views respectively on his YouTube channel.His début single, "Waiting Outside the Lines", was released in October 2010. Chance's début album, Hold On 'Til the Night, was released on August 2, 2011.

Selengkapnya...

Kamis, 01 September 2011

Bonfire

Seperti api unggun yang menghangatkanku dikala kedinginan,  menerangiku dikala gelap. Dengan kesederhanaannya. Yaa, hanya batangan kayu dan kobaran api kecil. Sepintas, itu memang bukan apa-apa. Hanya hal yang sangat biasa, namun dengan apa yang api unggun itu miliki. Ia mampu memberi dampak yang luar biasa. Api unggun itu…Kau, kaulah orang yang menghangatkan jiwaku, kaulah yang menerangi jalanku. Mengisyaratkanku tentang makna hidup, makna indahnya dimiliki dan memiliki. Suatu saat nanti, aku ingin sepertimu. Seperti api unggun itu. my bonfire..


@@@

“Disaat dewasa nanti, aku ingin menjadi seseorang yang dapat membanggakan orang-tuaku.” Kobaran api unggun yang menghiasi pemandangan depan Vita Marissa semakin meredup, apinya semakin mengecil sedangkat waktu sudah hampir larut malam. Ia menoleh kearah Alvent, dan tersenyum manis kepadanya. Sesekali ia menggosokkan tangannya agar merasa sedikit hangat.

“Kau bisa, Vit.” Alvent pun ikut tersenyum kearah Vita. Sedetik mata mereka bertemu, sebelum Vita memalingkan wajahnya. Suasana berubah menjadi hening. Cukup lama, mereka tenggelam dalam pemikiran masing-masing.

“Kau tahu? Pertama kali aku melihatmu, aku sudah merasakan getaran ini.” ucap Alvent memecah keheningan. Ia menerawang kesudut jauh. Keatas, kearah bintang yang meneranginya selain cahaya api unggun. Kearah langit yang menyelubunginya. “Dan, kau tahu? Aku sudah mempunyai rasa ini sejak lama, semenjak aku mengenalmu dulu.” lanjut Alvent.

Alvent diam sejenak. Ia memejamkan matanya dan membukanya lagi.

Vita masih menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap Alvent, ia tidak berani menatap cahaya api unggun didepannya. Ia tidak berani menatap bintang, bulan maupun langit seperti apa yang dilakukan Alvent. Ia hanya tersenyum dan terus menyembunyikan senyumnya tersebut.

Alvent mendesah. “Aku tidak tahu isi hatimu, aku tidak tahu perasaanmu. Walaupun aku terus mempelajari bagaimana cara membaca pikiran orang, tetap saja. Aku tidak bisa membaca pikiranmu.” Jelas Alvent. “Aku mencintaimu,” sela Alvent.

Vita memaksakan diri menatap Alvent yang terlihat sedang memainkan batu ditangannya. 

“Aku tidak berharap kau membalas cintaku, aku tidak berharap kau menjadi kekasihku. Tapi, aku berharap kau menerima pengakuanku. Menerima kenyataan kalau aku mencintaimu. Walaupun kau mungkin saja memiliki perasaan yang jauh berbeda ketika bersamaku.”

Vita tertegun. Alvent sedang menatapnya dengan penuh harap. Tatapan Alvent seperti mengisyaratkannya untuk berkata ‘ya’. Vita merasakan ia menahan napasnya dan ia mengangguk.

“Aku mengerti. Alvent,aku…”

“Mungkin aku terlalu bodoh membiarkan perasaan ini terus berkembang, dan justru membuatku gelisah. Membuatku resah untuk menyimpannya terus terusan. Dan itu tentunya akan membuatku berbalik menderita ketimbang aku berterus terang denganmu.”

Vita kembali menunduk. “Tidak, kau tidak bodoh. Kau tidak salah. Kau..kau bukan seperti orang yang kau katakan karena…karena aku juga mencintaimu.” Vita merasakan hatinya semakin tenang mendengar apa yang ia ucapkan, mendengar apa yang sebelumnya selalu ia sembunyikan, mendengar apa yang terselubung dalam benaknya selama ini. Dan itu sekarang. Hari ini..      

END.


Selengkapnya...

Destiny itu Takdir


“Mau kemana?” tanya Vita seketika.



Yana menoleh. “Mau jalan sama Prince charmingku dwoong. Emang elo gak laku-laku :p,”



“Kurangajar. Bukannya gue gak laku, tapi gue aja yang pilih-pilih. Banyak kok yang pengen jadi pacar gue,”



Yana menghela napas. “Bilang aja lo masih sayang sama Alvent,” ucapnya ketus.



Vita menoleh cepat kearah Yana. Menentang matanya yang tertancap di lingkaran mata coklatnya. “Apasih lo?” ia memberengut dan memalingkan wajahnya kearah TV.



“Benerkan lo masih sayang sama Alvent? Udah deh, Vit! Ngaku ajaaaa...” paksa Yana.



Vita mematikan tv-nya dan melempar remotnya ke sofa. Ia berdiri lalu mengambil kunci mobil di meja makan.

“Eh, eh? Mau kemana?”



“Mau nyari pacar! Mau buktiin ke elo kalo gue bisa nyari yang lebih baik dari Alvent! Jauuuh lebih baik, Biar lo gak bilang gue gak laku-laku,” jelas Vita tanpa menoleh kewajah melongo Yana. Ia membuka pintu dengan cepat tanpa menutupnya kembali.



“Ck!” decak Yana sambil menggelengkan pelan kepalanya.



@@@



“Apaan cobak? Masak gue dibilang suka sama si Alvent? Udah gila yaa tu bocah! Ngomong blak-blakkan kayak gitu,” dengus Vita. Ia menjatuhkan tubuhnya dengan kasar diatas bangku taman.


“Aaakk, Yanaa!!!!!!” seru Vita geram.



“Woy! Gak usah teriak-teriak gitu dong! Bikin kuping jebol aja,” ucap orang disebelah bangku Vita.



“Maaf, Mas. Lagi galau nih,” ucap Vita dingin tanpa menoleh.



“Mas, mas. Lo kira gue udah bangkotan lo panggil mas?”



“Aduuhh, lo bisa gak di...” Vita menoleh. Matanya sontak melebar maksimal. Memastikan siapa orang disebelahnya itu dengan jelas. “Elo?” tanyanya heran.



“Iya, gue. Kenapa?” sahut orang itu dingin.



Vita masih tercengang. Menatap orang itu dengan alis berkerut.



Orang itu tertawa pelan,“Gak usah gitu dong ekspresinya. Kayak gak pernah liat gue aja,” ucapnya lalu kembali melihat layar I-pad nya.



Vita memalingkan wajahnya dan mendesah. Ia membuka mulutnya, tapi tidak berkata apa-apa. Hanya mendesah lagi dan menyenderkan pundaknya di senderan bangku panjang. “Aduuh, ngapain juga si Alvent disini?” cekik batinnya.



“Seneng bisa reunian disini,” ucap Alvent memecah keheningan. Dan tanpa menoleh sedikitpun ke Vita.



“Yaa.. Hmm, gue duluan yaa. Semoga ketemu lagi,” ucap Vita lalu segera berdiri.



“Vit,” Alvent mencekat pergelangan tangan kiri Vita dan mendongak kearahnya.



Vita terkesiap. Ia menoleh. Bukan, bukan kearah Alvent, melainkan kearah tangan Alvent yang menggenggam pergelangan tangannya. Seketika jantungnya susah untuk distabilkan lagi. “Aduuh, apaan lagi?” ucapnya dalam hati.



“Sorry,” Alvent buru-buru melepas tangan Vita yang ia genggam. “Duduk,” ucapnya singkat.



Vita menggeleng.



“Lo gak denger gue suruh duduk?” dengus Alvent.



Vita memberengut dan dengan malas ia mengikuti suruhan Alvent.



“Nah, gitu dong. Ternyata lo masih kayak dulu yaa, sering ngebantah.”



Vita menatap Alvent sinis. “Apasih maksud lo? Udah nyuruh gue duduk, pake ngusik-ngusik masa lalu lagi. Nyebelin tau! Yaudah gue pergi aja,” ketus Vita.



Alvent tertawa pelan. “Sorry, jangan ngambekan gitu dong. Gue kan pengen ngobrol sama lo. Udah lama nih gak ketemu,”



Vita tetap tak bergeming.



Alvent tersenyum. “Gimana kabar lo?”



“Baik,” sahut Vita.



“Ooh,”



Alvent kembali terdiam. Cukup lama.



“Lo nyuruh gue duduk cuma mau ngomong begituan aja?” tanya Vita kesal.



Alvent tersenyum. “Sebenernya bukan itu aja,”Alvent berdeham.“Tau kenapa kita ketemu lagi?” kali ini dia menatap Vita.



Alis Vita berkerut.



“Karena destiny itu takdir,” ucap Alvent serius.



Vita tak mengerti. “Hah?”



“Iya,” ucap Alvent sambil tersenyum. Senyum yang kesekian kalinya.



“Apasih maksud lo?” tanya Vita lagi.



“Nanti malem lo bakalan tau kok.” bisik Alvent lirih. Lalu ia bangkit dari bangku dan meninggalkan Vita tanpa menunggu balasan darinya.



“Apasih maksudnya? Misterius banget,” desah Vita.



@@@



“Vit! Lo masih kontak sama Alvent?” tanya Yana dengan nada mendesak.



Vita melepaskan earphone -nya.


“Apa?”



Yana mendesah. “Lo masih kontak sama Alvent?”



“Siapa yang masih kontak? Tau nomernya aja gak,” sahutnya dingin.



“Bohong!”



“Bener,”



“Aah, elo mah gapernah mau cerita sama gue, yaa. Oke, Vit! Oke!” dengus Yana kesal.



“Iih, ni bocah bandel yaa! Dibilang gaada ya gaada,”



“Trus, kalo gaada ngapain dia kerumah kita?”



Vita tercengang. “Hah? Dia kesini? Sumpah lo?”



“Iyaa! Baru aja gue slese ngobrol sama dia. Katanya mau ketemu lo!”



“Trus lo bilang gue ada?”



“Yaiyalah! Masak gue bo'ong! Emang elo? :p”



“Aduuhh, gimana nih?” tanya Vita.



“Udah giih, temuin sana. Kasian udah nunggu lama,”



“Tapi...” Vita mendesah. “Iya deh,” ucapnya pasrah.



@@@



“Alvent?” ucap Vita yang baru saja keluar dari Pintu dan sudah mendapati Alvent duduk di teras depan. Menghadap mobil sedan hitamnya. Ia duduk disebelah Alvent.



“Kaget ya?” tanya Alvent.



“Ngapain sih kesini?” Vita berbalik bertanya.



Alvent tersenyum. “Mau mastiin kata destiny itu,” ucapnya disertai tawa geli.



Vita menyipitkan matanya. Ia menggosokkan tangannya. “Diluar dingin banget loh. Masuk yuk,”



“Ga usah. Disini aja, gak enak sama Yana.”



“Ohh, yowes .”



Suasana kembali hening.



“Vit,”



“Hmm,” sahut Vita.



“Mata lo merah, ngantuk ya? Kalo ngantuk gue ngomongnya besok aja deh,” ucap Alvent.



“Ehh? Gak kok. Ni masih melek,” tolak Vita. Ia mengucek-ngucek matanya lalu tersenyum kembali.



“Gak jamin gue,” ucap Alvent sambil memberengut.



“Makanya lo cepetan ngomongnya. Biar ngantuk gue gak banget-banget,” desah Vita.



Alvent menghela napas panjang. “Yang gue maksud destiny itu...” Ia menghentikan ucapannya. Terlihat Vita serius mendengarkan walaupun sesekali menguap.



“Kita,” lanjutnya. “Lo tau kan destiny itu artinya takdir?”



Vita menggangguk.



“Takdir itu erat banget sama jodoh, menurut gue. Karena itu, gue nganggep lo destiny gue, yaitu jodoh gue.” Alvent tersenyum manis.



“Hah? Jadi lo ngajakin balikan, gitu?” tanya Vita masih tidak percaya.



Alvent tertawa pelan.“Emang kita pernah putus?”



“Loh? Bukannya waktu lo ke Jepang bilang kalo kita ketemu lagi itu artinya jodoh, berarti itu udah putus kan?!”



Alvent tertawa geli. “Emang kalo cuma bilang begituan artinya putus, gitu?”



“Yaaa, gak juga sih... Tapi kok ponsel lo gak aktif?”



“Kan gue beli nomer baru. Nomer jepang gitu.” ucap Alvent.



“Terus, kok lo gak pernah bales mention twitter gue? Message facebook gue juga!”



“Gue gak sempet. Banyak banget tugas semenjak kuliah disana”



“Ooh,” Vita mengangguk-ngangguk.



“Jadi, kita masih pacaran kan?” Alvent tersenyum.



Vita melirik kearah Alvent. “Emang kita pernah pacaran?” tanyanya balik.



“Masa gak pernah? Kok gue ngerasanya pernah ya? Kalo gue inget-inget. Gue pernah nyentuh tuh bibir,” Alvent tertawa geli.



“Ahh, masak? Kok gue ngerasa gak pernah sih?” balas Vita.



“Mau?” tanya Alvent cepat.



“Yee, itu mah mau lo! :p” ucapnya sambil mendorong bahu Alvent.



“Oke, oke. Jadi sekarang kita masih pacaran kan?” tanya Alvent lagi. Nadanya berubah sedikit serius. Ia menegakkan duduknya dan menatap Vita.


Vita mengangguk. “Kalo kamu maunya gitu, yaa..” ia tersenyum.



Alvent mengerti maksud Vita dan langsung memeluk Vita.



“Eh, eh? Ngapain nih?” tanya Vita belagak gatau.



“Meluk kamu dong. Katanya kedinginan. Sini kupeluk biar hangat,”



“Ooh,” ucap Vita lalu membalas pelukan Alvent.



Cieee, aku-kamu, aku-kamuaan. Hahahahahahahha....

Vita dan Alvent tekesiap. Menoleh ke sumber suara. Terlihat Yana muncul dibalik pintu. Wajahnya saja.

“Yanaaaaaaaa.........!”



-END-


Garing yah? HA-HA


Thankyou :)


Selengkapnya...

Minggu, 28 Agustus 2011

Ini yang Terakhir, Maaf


          Siang ini, Yana dan Vita sejenak menghabiskan libur sekolah terakhirnya di salah satu pusat perbelanjaan di London. Yana dengan style feminim agak tomboy-nya sesekali membernarkan topi yang baru saja ia beli. Sedangkan Vita sibuk dengan barang belanjaannya yang sedubrek. Setelah lama berdebat, akhirnya Yana dan Vita singgah disebuah tempat makan khas Thailand.
            “Vit?” Yana memulai perbincangan setelah lama bungkam karena sibuk akan pikiran masing-masing.
            “Ehm?” jawab Vita.
            “Yakin kau akan ke Jepang?” Yana bertanya menatap Vita polos. Ia mengerenyitkan kedua alisnya. Ini bukan pertanyaan pertama!
            Vita memandang Yana malas. Dengan kesekian kalinya Ia berkata, “Iya, aku harus ke Jepang. Aku harus ikut Ayah dan Ibu,” Kalau saja Yana tidak memasang wajah sepolos itu. Mungkin Vita sudah menggorengnya tadi dan dijadikan santap siang Golden hari ini, peliharaannya.
            “Kenapa?”
            Vita langsung garuk-garuk kepala sendiri.
Etdah..bocah sableng! Belum Vita menjawab. Yana sudah menjawab pertanyaannya sendiri.
            “Oke, baiklah. Aku tau kau kesal dengan sifatku yang terbilang bertele-tele. Tapi aku butuh satu alasan lagi kenapa kau tumben mau pergi dari London,” kali ini Yana terlihat lebih dewasa. Bukan! Bukan karena ucapannya. Tapi karena penekanan disetiap kalimatnya. Sungguh..
tumben.
            “Apa maksudmu? Kau kira aku menyembunyikan sesuatu? Hah?” Vita mendengus. Sejenak ia mengambil cangkir kertas dan menyeruput pelan the herbal yang baru saja datang.
            Dengan cepat Yana membantah. “Bukan! Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin kau benar-benar pergi tanpa… dendam..” nada bicara itu semakin rendah dan pelan. Yana menghembuskan napas perlahan. “Alvent,” Yana tampak ragu. Ia melirik Vita perlahan, namun pasti.
           
Uhuk.. Vita tersedak. Dengan cepat ia menjauhkan tehnya. Ia mengambil sehelai tisu dan mengelap bibirnya. Glek.. menelan ludah. “Alvent?” dengan malas Vita merespon.
            Yana mengangguk mantap. “Iya, Alvent.”
            “Terus?”
            “Kau masih marah dengannya?” Yana ragu.
            “Ehmm.. entahlah,” Vita mengangkat bahunya. Ia tampak menyebalkan sekarang.
“Kenapa?”
Vita mengerutkan alisnya. “Kenapa? Yaa… kau pikirkan saja sendiri!”
            Yana mendengus. “Vit, ini yang terakhir. Alvent! Maafkan dia. Aku mohon,” Ia menggigit bibir bawahnya.
            “Kau yakin kan ke Jepang mau ikut Orang tuamu? Bukan menghindar dari Alvent, kan? Iya kan, Vit? Bukan karena kakakku, kan?” Yana menambahkan. Ia masih berharap Vita berkata tidak dan itu benar. Tidak dalam artian dia tidak berbohong.
            Vita menghela napas untuk kesekian kalinya. “Besok aku berangkat,” Ia mengalihkan pembicaran.
            Yana tau maksud Vita berkata seperti itu. Dia merasa benar-benar gagal kali ini. “Ini yang terakhir, sebelum besok. Aku mohon, maafkan dia,” lirih.
            Vita menunduk. Sejenak Ia mendesah kembali. “Untuk apa aku memaafkannya? Penting?”
            “Kau tidak dengar tadi, hah?!” Yana mendengus. “Aku hanya ingin kau pergi tanpa dendam! Hanya itu! Tidak lebih!”
            Vita kembali menunduk dan memotong-motong steaknya.
            “Bagaimana? Kau bersedia kan? Ini untukmu, untuk Alvent, dan juga aku,” Yana berharap-harap cemas.
            Setelah lama bungkam. Akhirnya Vita buka suara. “Aku akan beri kepastiannyaa besok.  Iya.. besok!”
Degg! Apa yang sudah kukatakan?! Vita memejamkan paksa matanya dan menggigit bibir bawahnya.
            Yana menghela napas lega. “Baiklah. Pegang janjimu. Besok kau sudah harus menjelaskan semuanya, ingat, Vit. Ini demi kebaikanmu, Alvent dan kita. Aku harap kau tidak berbohong.”
Tuhkan, mati gue… Vita membatin.
Malam itu juga, Vita membuka jendela kamarnya di lantai atas dan menarik napas dalam-dalam. Sejenak Ia menoleh kedalam, kearah jam wekker kecilnya di meja. Ia mendesah, “jam 10 , kira-kira 24 jam lagi,” ia berbicara sendiri dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela kamarnya yang menghadap taman disamping rumahnya.
           ...
Ini yang terakhir, sebelum besok. Aku mohon, maafkan dia… seperti sirene ambulans. Perkataan Yana tadi siang selalu terngiang-ngiang di benaknya. Vita merasa... resah. Ia mengingat kembali Yana kala sedang mengatakan itu semua. Lirih, pelan dan pucat!
          
Ada apa ini? Vita memejamkan matanya kuat-kuat. Ia menggigit bibir bawahnya. “Yana.. Alvent.. ada apa ini sebenarnya?!” Vita melirih. Sungguh. Vita sudah merasa ada yang beda dari ucapan Yana. Tidak biasanya Yana se-serius ini. tidak biasanya Yana memaksanya berkata sesuatu tentang Alvent. Ya! Alvent! Lelaki yang pernah menyakitinya, dulu. Kakak dari seorang Yana, sahabat terdekatnya. Dunia memang ekstrim!
           Vita merogoh sakunya. Ia mendapati ponselnya menerima satu panggilan tak terjawab.
           “Yana?”
           Vita dengan segera menghubunginya. Dengan sabar ia menunggu Yana mengangkat teleponnya. “Yanaa… angkat dong! Angkatt!!” Vita jadi panik.
           Beberapa detik kemudian. “Yan..” Vita menjawab namun Yana mendesaknya. “Vita, kau kah itu? Vit! Cepat kemari Vit! Alvent!! Dia kritis. Aku mohon, dia membutuhkanmu!” Yana cemas.
           “Alvent, kritis? Apa maksudmu?!” Vita jadi ikutan panik.
           “Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya sekarang! Cepat! Kau kemari. Aku ada di
Hospital City kamar 235. Cepat, Vit!” Yana semakin mendesak dan membuat Vita semakin panik.
            “Mana, mana, Alvent?!” Vita panik dan menggoncang-goncangkan pundak Yana setelah baru datang. Ia merasakan pundak Yana sangat lemah. Tidak seperti biasanya.
            “Dia di dalam. Masih diperiksa dokter,” suara itu terlontar dengan berat. Yana menangis.
            “Al…vent? Di..dia kenapa?” Vita melepaskan tangannya dari pundak Yana. Ini pertama kali ia melihat sabahatnya menangis. Sudah 5 tahun, dan ini yang pertama. Pertama kali. Ia melihat sahabatnya yang menegarkannya kini berbalik mencoba ingin ditegarkan. Memang,
roda itu berputar.
Yana tak menjawab. Cukup lama.
            Vita mendesah. “Yana..?”
Yana tetap menangis dan tidak mau menjawab pertanyaannya. Berat. Vita tau hati Yana. Tapi dia tidak tau apa yang terjadi. Dengan Alvent, mantannya. Vita tidak mau memaksa Yana menceritakan semuanya. Semua yang dihadapinya. Yang dihadapi Alvent. Sekarang, detik ini.
Hujan masih turun dengan derasnya. Sama seperti airmata yang terus jatuh dari mata Yana. Entah berapa banyak sudah ia buang untuk hari ini.

Tiba-tiba…
Seorang dokter paruh baya keluar dari ruangan yang sekian lama pintunya tertutup rapat. Yana langsung terlonjak.
            “Bagaimana kakak saya, dok?!”
Dokter itu tidak langsung menjawab. Ia mendesah dan menyeka keringatnya terlebih dahulu.   Dokter itu tersenyum, suram. “Kakak anda masih mencoba melawan penyakitnya. Dia kuat sekali,”
Vita menghela napas panjang.
            “Lalu, apa saya boleh menjenguknya sekarang?” Yana bertanya lagi.
            “Tentu saja, mungkin dia sedang istirahat,”
            “Baiklah, terima-kasih dok.” Vita segera berterima kasih sedangkan Yana sudah masuk ke kamar tersebut dengan cepat.
Vita tidak langsung masuk. Ia hanya mengamatinya perlahan dari luar. Yana tidak menutup pintu kamar itu. Sejenak napas Vita terasa sesak. Kamar ini nyaris baunya obat-obatan semua!  Vita membatin. Iya, memang. Ruangan Alvent memiliki bau obat-obatan yang sangat pekat. Ia tidak bisa membayangkan sudah berapa banyak obat yang Alvent habiskan untuk mempertahankan hidupnya. Fokus matanya tertuju pada sesosok laki-laki putih di atas ranjang yang dipenuhi infus disana-sini. Pernapasannya pun masih menggunakan alat bantu bernapas. Pakaian yang dipakainya serba putih. Wajahnya memucat. Sungguh! Ini seperti bukan Alvent!
            “Kaak, kakak yang kuat. Kakak harus bisa melawan penyakit ini. harus kak, harus!!” Yana duduk menghadap Alvent. Menangis dengan satu harapan.
-cklek- Vita menutup pintu kamar. Langkah kakinya terdengar mendekat. Yana terkesiap dan menoleh ke belakangnya. Vita. Ia menggigit bibir bawahnya.
            “Kak, bangun. Vita ada disini. Untukmu, kak. Untukmu!! Aku berhasil membawanya bertemu denganmu! Ayo bangun kaaak! Cepat berterima-kasih kepadaku!!” Yana tersenyum disela tangisnya. “Apa kau tidak mau berkata terima-kasih kepadaku? Apa ini caramu membalas jasaku yang sudah lelah membujuk Vita agar mau bertemu denganmu?” lanjut Yana.
            “Yan….,” Vita melirih. Air matanya mulai terbendung memenuhi pelupuknya. Vita kembali merasakan sesak menghujam pernapasannya.
            “Lihat, kak. Dia memanggilku. Kau bisa mendengarnya kan, kak? Bisa kan?”
 Vita beralih kerarah meja disebelah Yana duduk dan menangis. Banyak obat dan kapsul diatas sana.
Dan ini… Degg! Vita tercekat. Obat ini! A..a… Alvent?
            “Kau.. kau tidak pernah menceritakan semua yang terjadi kepada Alvent! Kenapa, Yan?!” Mendadak Vita mengeluarkan suara yang membentak. Terkesiap, Yana menoleh kearahnya. Vita menangis. “Kenapa kau tidak memberitahu penyakit ini?!”
            Yana menoleh kaget. Dia mati kutu. “A..ak..,”
            “Kenapa kau tidak pernah bercerita tentang ini semua? Kenapa, Yan? Kenapa kalian menyembunyikannya?!” Vita memotong kalimat Yana. Ia emosi. Ia terus menangis.
            “Apa maksudmu menyembunyikan sesuatu?!” Yana bingung.
            “Aku tau penyakit ini! Aku tau apa yang diderita Alvent! Ini penyakit yang sama.. dengan adikku..,” lirih. Yana tak merespon.
            “Adikku meninggal karena leukemia ini!” Vita menambahkan. “Kenapa kau tak bercerita kepadaku?!!”
            Air mata Yana berlalu. “Bagaimana aku menceritakan ini semua kepadamu? Sedangkan kau sendiri tidak mau mendengar Alvent. Kau sendiri tidak mau bertemu dengannya. Kau sendiri tidak mau peduli dengannya! Apa aku perlu memberitahumu tentang penyakit ini? perlu?! Apa karena Alvent sakit kau mau menjenguknya? Kau egois!” Yana membantah. “Kau tau alasan mengapa Alvent memutuskanmu dulu? Mendadak. Tiba-tiba. Itu pertama kali dia tau kalau dia mengidap penyakit leukemia! Dia tidak mau kau merasa memiliki kekasih yang cacat! Yang penyakitan! Dia tau kau tak setegar itu menerima keadaan orang! Kau terlalu egois dimatanya!” Yana mengatakan apa yang selama ini ingin ia katakan kepada Vita.
            “Sebenarnya Ia ingin sekali memberitahu ini kepadamu! Tapi apa yang dia dapat? Kau selalu mengatahinya egois! Laki-laki kurangajar! Laki-laki tidak berperasaan! Kau tidak mau sekalipun mendengarkannya! Kau hanya menghujamnya dengan kata-kata yang menyakitkan!” Yana terus berbicara. Sedangkan Vita yang selalu dibelakanginya menangis sesenggukan mendengar pengakuan Yana tentang Alvent. Wajahnya penuh dengan airmata.
            “Dan sekarang kau malah marah denganku! Seharusnya kau ngaca, Vit! Lihat wajahmu! Aku benci ini semua! Aku muak!” Yana berdiri dan segera keluar dari ruangan Yana. Membiarkan Vita berdua dengan Alvent.
            Jujur. Vita sangat kaget mendengar penjelasan Yana.
..Dia tidak mau kau merasa memiliki kekasih yang cacat! Yang penyakitan!..
Tubuhnya terhuyung mundur dan membentur tembok. Ia meluruh disana. Memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan muka diantaranya. “Tidak! Aku tidak seperti itu!!!” Vita berteriak. Ketika tangis itu reda, Vita berjalan menuju kursi disamping ranjang Alvent. Ia duduk disana dan meraih tangan Alvent.
            “Alvent… Ini… Vita…,” Ia terpejam dan menitikkan air mata. Cukup lama.
            “Vita…,”
            Vita tersentak.
            “Alvent?!” panggilnya seketika. Ia melihat Alvent. Matanya terbuka! Ia tersenyum kearahnya!
            “Alvent? Astaga, akhirnya kau bangun!” Vita tersenyum.
            “Vita.. Maaf,” ucap Alvent dengan suara parau. Hening sesaat.
            “Sudahlah, sebenarnya aku yang harus minta maaf. Aku terlalu egois,” Vita menggenggam tangan Alvent hangat.
            “Tidak, bukan salahmu. Ini yang terakhir, Maafkan aku.” Suara Alvent kian lama kian melirih. Dan serak. Sungguh! Vita tidak mampu melihat Alvent seperti ini.
            “Apa maksudmu yang terakhir?” Vita menjadi panik.
            Alvent menggenggam erat tangan Vita dan semakin lama semakin erat. Alvent tersenyum dan memejamkan matanya. “Jika aku pergi, aku mohon. Maafkan aku. tulus, maafkan apa yang pernah kuperbuat yang pernah salah dimatamu. Aku sama sekali tidak ingin kau sakit. Tapi aku terlalu cacat dimatamu sehingga seperti ini. Vita, berikan aku kesempatan ini, aku tidak akan memintanya lagi. Tolong, maafkan aku.” Air mata itu menetes. Vita terpejam. Tangannya masih menggenggam tangan Alvent dengan erat. Tidak ingin melepaskannya.
            Vita sesenggukan. “Aku sudah memaafkanmu,”
            “Benarkah?” Alvent memastikan.
            Vita mengangguk.
            “Terima kasih, Vit. Dengan ini mungkin jalanku ke surga nanti akan lebih tenang. Terima-kasih banyak,”
            Ucapan Alvent membuat Vita panik. “Tolong jangan berkata seperti itu, Vent!”
            Alvent membuka matanya melihat perempuan cantik didepannya dan tersenyum. “Aku rasa ini yang terakhir. Melihatmu disini, menatapmu dengan jelas dan menggenggammu lebih lama. Ini akan menjadi hari terakhir dan hari terindah sepanjang hidupku, aku mencintaimu..”
            Tak lama kemudian, Alvent terpejam dalam senyum itu. Dalam kata-kata indah untuk perempuan yang masih membekas dihatinya. Ingin sekali Vita memeluk laki-laki yang terbaring tak bernyawa di depannya ini. Belahan masa lalu yang kini kembali. Kembali dengan waktu yang singkat. Airmata membasahi wajahnya.
Alvent telah hilang, tapi hatinya takkan hilang. Masih disini, dihatiku..   

Selengkapnya...